<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1023182855146596496</id><updated>2012-02-16T04:48:01.963-08:00</updated><category term='Dauroh'/><category term='Manhaj'/><category term='mabhats'/><category term='Fatwa'/><title type='text'>Ahlussunnah Akan Jaya Sampai Hari Akhir</title><subtitle type='html'>Tegar Diatas Sunnah itulah Cita-Cita Setiap Muslim Ahlussunnah Diatas Manhaj Salafusshalih</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://saifullah-salafy.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1023182855146596496/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saifullah-salafy.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>saifullah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12056788146908897077</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_7oCYBN6dEQg/SOd86KCEepI/AAAAAAAAAAY/zID-ha1fTk4/S220/Lafadz16.BMP'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>7</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1023182855146596496.post-8814980006050392588</id><published>2009-01-24T08:43:00.000-08:00</published><updated>2009-01-24T08:49:58.492-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fatwa'/><title type='text'>PELAJARAN DARI PALESTINA</title><content type='html'>Dengan menyebut nama Allah yang Maha pemurah lagi Maha penyayang&lt;br /&gt;Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh&lt;br /&gt;Amma Ba’du&lt;br /&gt;Sesungguhnya kejadian yang menimpa saudara-saudara kita sesama muslim di Gaza berupa pembunuhan, penghancuran, serta penjajahan atas mereka yang dilakukan oleh kaum Yahudi terlaknat, tentu dirasakan pedih dan sakit oleh setiap mukmin dan membuat hati mereka teriris.&lt;br /&gt;Ya Allah, alangkah murah dan sepele darah kaum muslimin [di mata mereka].&lt;br /&gt;Maha suci Allah, betapa menyakitkan gambaran mayat-mayat [orang-orang tak bersalah itu] di dalam hati orang-orang yang beriman. Alangkah banyak nyawa yang telah melayang, darah yang tertumpahkan, kaum wanita yang ternodai [kehormatannya] , dan begitu banyak rumah-rumah yang dihancurkan.&lt;br /&gt;Sesungguhnya kejahatan-kejahatan Yahudi di negeri Palestina yang terampas itu bukan perkara yang aneh dilakukan oleh orang-orang semacam mereka (baca: Yahudi). Lebih parah daripada itu, mereka adalah kaum yang berani mencela dan mengejek al-Bari (Allah) Yang Maha suci. Sebagaimana yang difirmankan oleh-Nya (yang artinya), “Orang-orang Yahudi berkata; ‘Tangan Allah terbelenggu’. Justru tangan-tangan mereka itulah yang terbelenggu dan mereka dilaknat akibat ucapan yang mereka lontarkan. Bahkan, kedua tangan Allah itu terbentang, Dia akan memberi bagaimanapun yang dia suka.” (QS. al-Maa’idah [5]: 64)&lt;br /&gt;Mereka adalah para pembunuh nabi-nabi Allah. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Hal itu terjadi karena mereka senantiasa mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu terjadi akibat kedurhakaan mereka dan karena mereka selalu saja melampaui batas.” (QS. al-Baqarah [2]: 61)&lt;br /&gt;Mereka adalah saudara kera-kera dan babi-babi yang berusaha untuk mengelabui Allah. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan tanyakanlah kepada Bani Israel tentang negeri yang terletak di dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabtu, di waktu datang kepada mereka ikan-ikan (yang berada di sekitar) mereka terapung-apung di permukaan air, dan di hari-hari yang bukan Sabtu, ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. Demikianlah Kami mencoba mereka disebabkan mereka berlaku fasik.” (QS. al-A’raaf [7]: 163)&lt;br /&gt;Selaras dengan ikatan persaudaraan di atas keimanan, maka sudah semestinya setiap muslim memberikan bantuan sekuat kemampuannya dan memohon dengan sangat kepada Allah dengan doa yang diiringi rasa penuh harap kepada-Nya agar Allah berkenan segera menyingkirkan kesulitan dan musibah yang mencekam saudara-saudara kita [di sana]. Berkaitan dengan kejadian yang begitu memilukan ini, saya ingin mengingatkan kepada saudara-saudaraku kaum muslimin dengan beberapa pelajaran manhaj dari kejadian yang menimpa daerah Gaza Palestina:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pelajaran Pertama&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya kejadian yang menyedihkan ini semakin menguatkan kebenaran berita yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’alamengenai orang-orang kafir berupa permusuhan mereka yang sengit kepada kaum mukminin. Dan yang harus kita lakukan adalah memusuhi seluruh golongan orang kafir dari kalangan Yahudi, Nasrani, Majusi, dan lainnya, dikarenakan mereka adalah orang-orang kafir. Dan apabila mereka menyakiti dan memerangi kita, maka kebencian kita kepada mereka pun semakin memuncak. Hal ini tentu berbeda dengan apa yang dilontarkan oleh sebagian orang yang menganjurkan untuk tidak memberikan pertolongan yang mengatakan, “Sesungguhnya kita tidak akan memusuhi orang-orang kafir kecuali apabila mereka menyakiti dan memerangi kita.” Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah merasa puas/ridha kepada kalian sampai kalian mau mengikuti millah (ajaran agama) mereka.” (QS. al-Baqarah [2]: 120).&lt;br /&gt;Ayat ini menunjukkan bahwa permusuhan mereka kepada kita akan terus berlangsung sampai kita ikut menjadi kafir seperti mereka. Allah ta’ala juga berfirman (yang artinya) “Sungguh telah terdapat suri teladan yang baik pada diri Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya, ketika mereka berkata kepada kaumnya; Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari apa yang kalian sembah selain Allah. Kami mengingkari kalian dan telah tampak dengan jelas antara kami dengan kalian permusuhan dan kebencian untuk selama-lamanya, sampai kalian mau beriman kepada Allah semata.” (QS. al-Mumtahanah [60]: 4). Maka kita pun harus memusuhi dan membenci mereka untuk selama-lamanya dikarenakan mereka kafir, sampai mereka mau meninggalkan kekafiran mereka dan beriman kepada Allah semata. Jadi, permusuhan [kita] tidak hanya terbatas kepada orang yang memerangi kita di antara mereka, sebagaimana yang diserukan oleh sebagian da’i yang bersikap lembek [silakan dengar kajian berjudul ‘Surat-surat kepada gerakan HAMAS’ http://www.islamanc ient.com/ lectures, item,346. html, yang disampaikan oleh Syaikh untuk menasihati mereka, pent]&lt;br /&gt;Allah ta’ala menegaskan kewajiban permusuhan kita kepada mereka karena mereka adalah orang-orang kafir. Allah ta’ala berfirman (yang artinya),“Tidak akan kamu temukan suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir justru berkasih sayang dengan orang-orang yang memusuhi Allah dan rasul-Nya, meskipun orang-orang itu adalah ayah-ayah mereka, anak-anak mereka, saudara-saudara mereka, atau kerabat mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah ditetapkan Allah keimanan di dalam hati mereka.” (QS. al-Mujadilah [58]: 22)&lt;br /&gt;Di antara konsekuensi hal itu adalah kita tidak boleh menyerupai ciri khas mereka, baik dalam hal pakaian atau yang lainnya. Dan ini sekaligus merupakan ajakan kepada para pemuda kita, agar mereka meninggalkan pakaian-pakaian olah raga yang padanya terdapat nama-nama pemain (olah raga) yang kafir itu. Bahkan ini juga ajakan kepada segenap kaum muslimin untuk merasa mulia dan bangga dengan keislaman mereka. Agar kaum muslimin memandang kepada orang-orang kafir dengan pandangan permusuhan dan kerendahan, maka tidak benar perkataan bahwa orang kafir itu juga saudara kita sebagaimana yang dilontarkan oleh sebagian da’i yang lembek. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Muhammad adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersamanya, mereka bersikap keras kepada orang-orang kafir, dan berkasih sayang dengan sesama mereka.”(QS. al-Fath [48]: 29). Allah juga berfirman (yang artinya), “Maka Allah akan mendatangkan suatu kaum, Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, berlemah lembut dengan orang-orang mukmin dan keras kepada orang-orang kafir.” (QS. al-Maa’idah [5]: 54)&lt;br /&gt;Salah satu perkara yang sangat-sangat mengherankan yaitu anda dapat melihat sebagian orang yang dinisbatkan (disandarkan) kepada kalangan para da’i ila Allah -namun itu adalah penisbatan yang dusta- mereka itu tidak mau mengafirkan Yahudi dan Nasrani. Maka sungguh dia telah mendustakan al-Qur’an yang jelas-jelas telah mengafirkan mereka, maka orang seperti itu kafir berdasarkan ijma’ ulama sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Ibnu Taimiyah dan Imam Abdul Aziz bin Bazrahimahumallah. Sebagai tambahan, guru kami Ibnu Baz menyebutkan bahwa tidak benar menamai orang-orang Nasrani dengan istilah Masihiyyin(pengikut Isa).&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pelajaran Kedua&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya tindakan melampaui batas yang berlangsung secara beruntun dan terus-menerus serta penghinaan atas nyawa kaum muslimin yang suci, [dirampasnya] harta dan kehormatan mereka yang bersih termasuk bencana dan musibah besar yang menimpa kita. Sungguh banyak kalangan aktivis di medan dakwah yang telah keliru dalam mendiagnosa penyakit ini. Dibangun di atasnya, mereka pun keliru dalam menempuh jalan penyembuhannya. Saya telah menerangkan hal itu di dalam mukadimah kitab saya ‘Muhimmat fi al-Jihad’ [http://www.islamanc ient.com/ books,item, 50.html].&lt;br /&gt;Intisari dari penyakit ini adalah kemaksiatan kepada Allah. Dan yang paling besar di antaranya adalah meninggalkan tauhid dan sunnah serta tersebarnya syirik dan bid’ah di antara barisan kaum muslimin yang dinamakan dengan istilah tasawuf dan lainnnya. Dan keadaan ini semakin bertambah parah ketika muncul berbagai kelompok dakwah yang menelantarkan dakwah tauhid dan melalaikan peringatan agar menjauhi kesyirikan serta mengikis aqidah al-Bara’ (kebencian kepada musuh Islam) yang seharusnya tertuju kepada bid’ah dan para penyebarnya.&lt;br /&gt;Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar) kamu berkata: ‘Dari mana datangnya (kekalahan) ini?’ Katakanlah: ‘Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri’. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Ali Imran [3]: 165). Allah juga berfirman (yang artinya), “Telah tampak kerusakan di daratan dan di lautan dikarenakan ulah tangan manusia, Allah ingin memberikan pelajaran dengan menimpakan sebagian akibat perbuatan mereka, semoga mereka mau kembali(ke jalan yang benar).” (QS. ar-Ruum [30]: 41). Maka kedua ayat tersebut dan ayat-ayat yang lainnya secara tegas menjelaskan bahwa semua musibah -di antaranya adalah berupa kelemahan dan dikuasai oleh orang-orang kafir- adalah akibat dari dosa-dosa yang kita perbuat.&lt;br /&gt;Untuk mengatasi hal itu, maka obat dan penyembuhnya adalah dengan kembali kepada Allah, sebagaimana yang difirmankan oleh Allah ta’ala(yang artinya), “Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan beramal salih, niscaya Allah akan menjadikan mereka benar-benar berkuasa di atas muka bumi ini, sebagaimana halnya Allah telah mengangkat orang-orang sebelum mereka menjadi pemimpin, Allah benar-benar akan meneguhkan untuk mereka agama mereka yang telah Allah ridhai bagi mereka, dan Allah akan menggantikan rasa takut yang mencekam mereka dengan keamanan; mereka senantiasa beribadah kepada-Ku dan tidak mempersekutukan- Ku sama sekali.” (QS. an-Nuur [24]: 55). Ini adalah janji dari Allah, sedangkan Allah tidak mungkin menyelisihi janji-Nya. “Itulah janji Allah, Allah tidak akan pernah menyelisihi janji-Nya. Akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. ar-Ruum [30]: 6)&lt;br /&gt;Termasuk kekeliruan yang sangat fatal dan dosa yang sangat buruk yaitu [usaha sebagian orang] untuk memberikan posisi bagi Syi’ah Rafidhah untuk berada di antara barisan Ahlus Sunnah; sehingga mereka dapat dengan leluasa menyebarkan ajaran kekafiran dan kesesatan mereka, dan pada akhirnya mereka pun membahayakan Ahlus Sunnah. Sungguh mengherankan! Bagaimana bisa dibenarkan bagi seorang da’i yang mengajak untuk ishlah (perbaikan) kok malah memberikan tempat bagi Rafidhah yang mengafirkan umat terbaik setelah Nabi-Nya yaitu para sahabat yang mulia seperti Abu Bakar, Umar, dan Utsman, mereka jugalah orang-orang yang berani menuduh ibunda kaum mukminin -sosok yang sangat dicintai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan istri beliau- telah melakukan perzinaan, mereka (baca: Syi’ah) juga melampaui batas dalam mengangkat kedudukan para imam mereka sampai menduduki derajat sebagaimana halnya derajat Allah, sebagaimana sudah saya terangkan dalam bantahan untuk mereka dalam risalah al-Qaul al-Mubin li maa ‘alaihi ar-Rafidhah min ad-Din al-Masyin [http://www. islamancient. com/books, item,70.html] .&lt;br /&gt;Dahulu saya telah memberikan nasihat kepada organisasi HAMAS beserta pimpinan mereka -semoga Allah memberikan petunjuk kepada kami dan mereka- dan saya peringatkan mereka mengenai dampak [buruk] yang akan muncul akibat memberikan posisi bagi orang-orang Rafidhah di Palestina dan akibat buruk dari menyanjung mereka, sebagaimana telah kami sampaikan dalam sebuah pelajaran yang telah didokumentasikan dan disebarkan dengan judul ‘Rasa’il ila Hamas’, di antara tindakan mereka yang keliru itu adalah kunjungan Khalid Masy’al ke Iran dan meletakkan karangan bunga di atas kubur orang yang binasa yaitu al-Khumaini, dan pernyataannya bahwa Khumaini adalah bapak ruhani yang menjiwai dakwah mereka (HAMAS) di Palestina[?! ].&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pelajaran Ketiga&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Wajib bagi kaum muslimin untuk menyadari ukuran diri dan kekuatan mereka. Hendaknya mereka bisa membedakan antara kondisi lemah dan kondisi kuat, dan sudah seharusnya mereka pun mengetahui hukum-hukum yang menjadi konsekuensi atasnya. Hendaknya mereka menjadi orang yang bertindak realistis, bukan menjadi tukang khayal yang gemar berandai-andai. Maka tidak dibenarkan bagi siapapun mengharuskan kaum muslimin mengikuti keputusan-keputusan yang tidak cocok dengan kondisi mereka [sekarang ini] dan kelemahan mereka; yang itu semua dibangun di atas impian persatuan dan kesatupaduan mereka [yang belum terwujud]. Akan tetapi, yang harus dilakukan adalah hendaknya kaum muslimin bertindak sesuai dengan kondisi mereka saat ini, sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memilih perdamaian ataupun peperangan dengan mempertimbangkan kemaslahatan, yaitu mempertimbangkan kekuatan dan kelemahan yang ada serta faktor-faktor lainnya. Tatkala beliau masih berada di Mekah, Allah belum mensyariatkan kepadanya jihad. Karena pada saat itu beliau sedang dalam kondisi yang lemah, sebagaimana yang telah dipaparkan oleh para pemimpin Islam, di antaranya Imam Ibnu Taimiyahrahimahullah. Anda bisa menemukan keterangan mereka dengan jelas di dalam buku saya ‘Muhimmat fi al-Jihad’ dan dalam pelajaran yang berjudul‘al-Jihad baina al-ghuluw wa al-Jafaa’ [http://www. islamancient. com/lectures, item,550. html]&lt;br /&gt;Betapa sering seorang muslim harus merasakan sakit akibat melayangnya nyawa kaum muslimin yang lain disebabkan kobaran semangat yang tak terkendali oleh ilmu sehingga menimbulkan kezaliman orang-orang kafir kepada kaum muslimin yang lemah justru menjadi berlipat ganda, maka jadilah mereka sebagai korban sembelihan orang-orang kafir yang sangat gemar menganiaya, dan mereka [orang kafir] itu adalah orang-orang Yahudi. Dan jadilah kaum muslimin sebagai korban akibat tindakan yang salah dari sebagian kaum muslimin, dan mereka itu adalah para pemimpin HAMAS. Saya tidak mengerti sama sekali apa yang mendorong organisasi HAMAS untuk melakukan tindakan-tindakan perlawanan secara terang-terangan kepada orang-orang Yahudi kafir terlaknat itu, padahal mereka juga mengetahui bahwa kekuatan mereka sama sekali tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kekuatan orang-orang Yahudi. Bahkan, tindakan mereka itu justru -pada ujungnya- mengakibatkan semakin kerasnya penyiksaan kaum Yahudi kepada orang-orang yang lemah di antara kaum muslimin di Gaza. Sementara para pemimpin HAMAS bisa saja selamat karena mereka bisa membuat perlindungan di sekelilingnya untuk menyelamatkan diri. Kemudian, yang lebih aneh lagi adalah tindakan HAMAS yang tetap bersikeras meneruskan perang, sampai-sampai orang yang melihat mengira bahwa mereka memiliki kekuatan dan kemampuan yang memadai untuk menghancurkan Yahudi. Maka hal itu tidak lain justru semakin menambah sakit dan luka [pada diri kaum muslimin] akibat terjadinya berbagai pembantaian berdarah yang sangat keji [yang dilakukan oleh Yahudi, pent].&lt;br /&gt;Salah satu contoh tindakan yang membuat orang tertawa sekaligus menangis adalah pernyataan HAMAS yang mendalili perbuatan mereka itu -serangan kepada Yahudi secara terang-terangan- dengan alasan terpaksa karena mereka berada sedang dalam kondisi terkepung. Sehingga hal itu mendorong mereka untuk memilih meninggalkan bahaya yang timbul akibat kepungan musuh menuju suatu bahaya yang lebih berat dan lebih mengerikan, yaitu menggabungkan antara [bahaya] pengepungan dan terjadinya pembantaian berdarah. Memang benar, menetapnya Yahudi di bumi Palestina adalah kejahatan dan kezaliman yang tidak boleh diakui sama sekali. Mereka pun harus diusir dan dibuat angkat tangan [menyerah] agar tidak lagi menjajah al-Quds. Akan tetapi, kekeliruan ini tidak boleh disembuhkan dengan kekeliruan lain yang lebih fatal yaitu dengan menyebabkan tertumpahnya darah orang-orang yang tidak bersalah dalam jumlah yang sangat banyak.&lt;br /&gt;Saya benar-benar mengajak kepada para pemimpin organisasi HAMAS untuk selalu bertakwa dan takut kepada Allah dan mengambil pelajaran dari para pendahulu mereka yaitu al-Ikhwan al-Muslimun (IM). Betapa banyak kerugian yang timbul akibat letupan semangat dan tindakan-tindakan membahayakan yang mereka perbuat sehingga menyebabkan melayangnya banyak nyawa sebagaimana yang dahulu mereka lakukan di daerah Hamat. Kejadian yang menimpa mereka ketika itu belum jauh berlalu dari ingatan kita. Hendaknya mereka takut kepada Allah demi terjaganya keselamatan kaum muslimin yang lemah di Gaza yang terdiri dari orang-orang tua yang sudah jompo, anak-anak yang masih menyusu. Lihatlah, sekarang darah itu sudah tertumpah, para wanita telah ternodai kehormatannya, demikian pula anak-anak telah menjadi yatim. Apa yang bisa kalian lakukan selain mengeluh dan mengadu. Lihatlah, apa yang bisa kalian harapkan dari Iran yang Syi’ah itu yang katanya siap memberikan bantuan kepada kalian kecuali sekedar melemparkan urusan [tanggung jawab] mereka kepada pihak lain dan menebarkan keragu-raguan kepada negara-negara Islam Sunni yang lainnya. Apa yang telah diperbuat oleh kaum Rafidhah (Syi’ah) di Irak berupa pembunuhan terhadap kaum Ahlus Sunnah dan menyerahkan urusan mereka kepada negara kafir Amerika merupakan bukti paling besar yang menunjukkan kekejian mereka, dan tidak mungkin kita berharap bantuan dari mereka untuk melawan kaum Yahudi dan Nasrani.&lt;br /&gt;Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan di dalam bukunya ‘Minhaj as-Sunnah an-Nabawiyah’ [3/377] berkata, “Banyak di antara mereka -Rafidhah/Syi’ ah- justru menaruh rasa kasih sayang kepada orang-orang kafir dari dalam lubuk hatinya lebih daripada kecintaan mereka kepada kaum muslimin. Oleh sebab itulah ketika pasukan Turki keluar sedangkan orang-orang kafir datang dari arah timur kemudian membunuhi kaum muslimin dan menumpahkan darah mereka di negeri Khurasan, Irak, Syam, jazirah Arab, dan negeri yang lainnya, maka kaum Rafidhah justru memberikan bantuan kepada mereka (orang kafir) untuk membunuh kaum muslimin. Dan menteri Baghdad saat itu yang sudah ma’ruf (dikenal) yaitu Alqami dan orang-orang yang sepertinya, mereka itulah orang-orang yang paling besar perannya dalam memberikan bantuan kepada mereka untuk menghancurkan kaum muslimin. Demikian pula orang-orang Rafidhah yang dahulu tinggal di Syam, mereka itu adalah orang-orang yang paling besar perannya dalam membantu orang kafir untuk memerangi kaum muslimin. Begitu pula orang-orang Nasrani yang dahulu diperangi oleh kaum muslimin di Syam, ternyata kaum Rafidhah pun termasuk pembantu mereka yang sangat berjasa. Demikian pula tatkala Yahudi berhasil memiliki pemerintahan di Irak dan negeri yang lainnya, maka jadilah kaum Rafidhah sebagai pembantu mereka yang paling besar perannya. Mereka itu selalu memberikan loyalitasnya kepada orang-orang kafir dari kalangan orang-orang musyrik maupun Yahudi dan Nasrani. Mereka membantu orang-orang kafir itu dalam rangka memerangi kaum muslimin dan memusuhi mereka…” Selesai ucapan beliau.&lt;br /&gt;Sekarang kalian, wahai HAMAS. Kalian telah membuka jalan untuk kaum Rafidhah guna merusak keyakinan-keyakinan Ahlus Sunnah dan mengubahnya menjadi [aqidah] Syi’ah. Dan sebaliknya, kalian justru melarang para da’i salafi [ikut serta memperbaiki kekeliruan kalian, pent]. Bahkan, sudah terbukti kalian berani melakukan pembunuhan kepada sebagian di antara mereka (da’i salafi) dengan mengatasnamakan kemaslahatan yang diada-adakan. Barangsiapa yang ingin mendapatkan tambahan bukti dan keterangan yang lebih lengkap silakan merujuk kepada pelajaran ‘Rasa’il ila Harakati Hamas’ [masih dalam bentuk ceramah audio, belum di transkrip, pent]. Saya memohon kepada Allah agar Dia mematikan kita sebagai syuhada’ di jalan-Nya dan menyejukkan hati kita dengan hancurnya Yahudi. Saya pun memohon kepada-Nya dengan segenap kekuatan yang dimiliki-Nya demi terjaganya darah saudara-saudara kami kaum muslimin di Gaza dan di semua tempat, dan semoga Allah memberikan hidayah kepada para pemimpin HAMAS untuk meniti jalan yang lurus.&lt;br /&gt;Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh&lt;br /&gt;Abdul Aziz bin Rays ar-Rays&lt;br /&gt;Pengawas situs al-Islam al-’Atieq&lt;br /&gt;http://www.islamanc ient.com&lt;br /&gt;Permulaan tahun 1430 H&lt;br /&gt;diterjemahkan dari:&lt;br /&gt;Durus Manhajiyah Min Ahdats Ghazah al-Filisthiniyah&lt;br /&gt;http://islamancient .com/mod_ stand,item, 26.html&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Penerjemah: Abu Mushlih Ari Wahyudi&lt;br /&gt;Artikel www.muslim.or. id&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1023182855146596496-8814980006050392588?l=saifullah-salafy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saifullah-salafy.blogspot.com/feeds/8814980006050392588/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1023182855146596496&amp;postID=8814980006050392588' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1023182855146596496/posts/default/8814980006050392588'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1023182855146596496/posts/default/8814980006050392588'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saifullah-salafy.blogspot.com/2009/01/pelajaran-dari-palestina.html' title='PELAJARAN DARI PALESTINA'/><author><name>saifullah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12056788146908897077</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_7oCYBN6dEQg/SOd86KCEepI/AAAAAAAAAAY/zID-ha1fTk4/S220/Lafadz16.BMP'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1023182855146596496.post-5100794791557762643</id><published>2009-01-04T07:12:00.000-08:00</published><updated>2009-01-04T07:15:07.315-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fatwa'/><title type='text'>Fatwa Lajnah Da’imah Tentang Serangan Yahudi Kepada Muslim Palestina di Jalur Gaza</title><content type='html'>Komite tetap untuk penelitian ilmiyah dan fatwa (Lajnah Da’imah lilbuhuts al-Ilmiyah wa al-Ifta’) mengeluarkan penjelasan tentang peristiwa pembunuhan, pengepungan dan pengeboman yang terjadi di Jalur Ghaza sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الحمد لله رب العالمين ، والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين نبينا محمد وعلى آله وصحبه ، ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. وبعد :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komite tetap untuk penelitian ilmiyah dan fatwa (Lajnah Da’imah lilbuhuts al-Ilmiyah wa al-Ifta’) di Saudi Arabia merasa berduka cita dan merasakan sakit atas semua kezholiman, pembunuhan anak-anak, wanita dan orang-orang jompo, penghancuran kehormatan dan perusakan rumah-rumah dan tempat-tempat strategis serta pemunculan rasa takut para orang-orang umum yang menimpa saudara kita kaum muslimin di Palestina dan di Jalur Ghaza secara khusus. Ini semua pasti merupakan kejahatan dan kezholiman terhadap masyarakat palestina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa menyedihkan ini seharusnya menjadikan kaum muslimin bersikap bersama saudara mereka orang-orang Palestina dan saling tolong-menolong bersama mereka, membantu dan bersungguh-sungguh dalam menghilangkan kezaliman ini dari mereka dengan sebab dan sarana yang memungkinkan untuk diwujudkan untuk saudara se-islam dan se-ikatan iman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya: “Sesungguhnya orang-orang mu’min adalah bersaudara.” (QS. Al Hujurat [49]: 10)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Allah subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya: “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka ta’at kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. At Taubah [9]: 71)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;المؤمن للمؤمن كالبنيان يشد بعضه بعضاً وشبك بين أصابعه / متفق عليه،&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seorang mukmin dengan mukmin lainnya seperti bangunan yang saling mengokohkan dan selaiu menjalin antara jari-jemarinya.” (Muttafaqun ‘Alaihi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مثل المؤمنين في توادهم وتراحمهم وتعاطفهم مثل الجسد الواحد إذا اشتكى منه عضو تداعى له سائر الجسد بالحمى والسهر (متفق عليه)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Perumpamaan kaum mukminin dalam kecintaan, kasih dan saying mereka seperti permisalan satu tubuh. Apabila satu anggota tubuh sakit maka mengakibatkan seluruh tubuh menjadi demam dan tidak bisa tidur.” (Muttafaqun ‘alaihi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;المسلم أخو المسلم لا يظلمه ولا يخذله ولا يسلمه ولا يحقره (رواه مسلم)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seorang Muslim adalah saudara muslim lainnya, ia tidak menzaliminya, merendahkannya, menyerahkan (kepada musuh) dan tidak menghinakannya.” (HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertolongan ini mencakup banyak hal sesuai dengan kemampuan dan memperhatikan keadaan yang ada baik berupa materi ataupun maknawi (Spirit), baik bantuan dari umumnya kaum muslimin berupa harta, makanan, obat-obatan, pakaian dan lain-lainnya. Atau juga dari sisi Negara-negara Arab dan islam dengan mempermudah sampainya bantuan-bantuan tersebut kepada mereka dan bersikap benar terhadap mereka, membela permasalahan mereka di pentas, perkumpulan dan konferensi dunia dan Negara. Semua itu termasuk tolong-menolong pada kebenaran dan takwa yang diperintahkan dalam firman Allah ta’ala yang artinya: “Tolong menolonglah di atas kebaikan dan takwa.” (QS. Al-Maaidah [5]: 2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga di antaranya adalah memberikan nasihat dan petunjuk kepada mereka pada sesuatu yang berisi kebaikan dan kemaslahatan mereka. Di antara yang teragung dalam hal ini adalah mendoakan kebaikan kepada mereka dalam setiap waktu semoga dihilangkan cobaan dan musibah besar mereka ini. Juga semoga diberikan perbaikan keadaan mereka dan diberi taufik untuk beramal dan berkata yang benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah dan kami berwasiat kepada saudara-saudara kami kaum muslimin di Palestina untuk bertakwa kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya, sebagaimana juga mewasiatkan kepada mereka untuk bersatu di atas kebenaran, meninggalkan perpecahan dan perselisihan serta menghilangkan kesempatan musuh yang senantiasa mencari dan terus mencarinya dengan lebih keras dalam menghancurkan dan melemahkan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami menganjurkan saudara-saudara kami untuk mengambil tindakan-tindakan untuk menghilangkan kezaliman di atas tanah mereka dengan keikhlasan dalam beramal karena Allah dan mengharapkan keridaan-Nya. Juga isti’anah (meminta pertolongan) dengan sabar dan shalat serta musyawarah ulama dalam semua urusan mereka. Karena itu adalah tanda taufik dan pertolongan Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana juga kami mengajak cendekiawan dunia dan masyarakat internasional secara umum untuk melihat musibah ini dengan pandangan akal dan adil untuk memberikan hak masyarakat Palestina dan menghilangkan kezaliman darinya hingga bisa hidup dengan kehidupan yang mulia. Demikian juga kami mengucapkan terima kasih kepada semua Negara dan individu yang telah berpartisipasi dalam membela dan membantu mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;نسأل الله بأسمائه الحسنى وصفاته العلا أن يكشف الغمة عن هذه الأمة ، وأن يعز دينه ، ويعلي كلمته وأن ينصر أولياءه ، وأن يخذل أعداءه ، وأن يجعل كيدهم في نحورهم، وأن يكفي المسلمين شرهم ، إنه ولي ذلك والقادر عليه . وصلى الله وسلم على نبيا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mufti Agung Kerajaan Saudi Arabia dan Ketua Majlis Ulama Besar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syeikh Abdul ‘Aziz bin Abdillah Alu Syaikh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riyadh, 3 Muharam 1430 H/ 31 Desember 2008 M&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1023182855146596496-5100794791557762643?l=saifullah-salafy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saifullah-salafy.blogspot.com/feeds/5100794791557762643/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1023182855146596496&amp;postID=5100794791557762643' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1023182855146596496/posts/default/5100794791557762643'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1023182855146596496/posts/default/5100794791557762643'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saifullah-salafy.blogspot.com/2009/01/fatwa-lajnah-daimah-tentang-serangan.html' title='Fatwa Lajnah Da’imah Tentang Serangan Yahudi Kepada Muslim Palestina di Jalur Gaza'/><author><name>saifullah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12056788146908897077</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_7oCYBN6dEQg/SOd86KCEepI/AAAAAAAAAAY/zID-ha1fTk4/S220/Lafadz16.BMP'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1023182855146596496.post-2242481090928719974</id><published>2008-10-18T18:13:00.001-07:00</published><updated>2008-10-19T19:28:25.372-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dauroh'/><title type='text'>Informasi Dauroh Syar'iyyah Kota  Pontianak</title><content type='html'>Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh&lt;br /&gt;Bismillahirahmanirrahim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Informasi Disampaikan kepada semua kaum muslimin yang berada di Pontianak dan Sekitarnya  bahwa akan diadakan dauroh yang akan  dilaksanakan pada ;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari     : Jumat 7 November 2008&lt;br /&gt;Pemateri : Ustadz Yazid Bin Abdulqodir Jawas Hafidzahullahta'ala&lt;br /&gt;Thema    ; Khutbah Jumat/ Makna Syahadatain (ba'da Isya)&lt;br /&gt;Tempat   ; Masjid Raya Mujahidin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari     ; Sabtu 8 November 2008 pukul 08.00 WIB&lt;br /&gt;Pemateri : Ustadz Yazid bin Abdulqodir Jawaz Hafidzahullahuta'ala&lt;br /&gt;Thema    ; Mulia diatas Manhaj Salaf&lt;br /&gt;Tempat   ; Masjid Muhtadin Komplek Untan&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1023182855146596496-2242481090928719974?l=saifullah-salafy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saifullah-salafy.blogspot.com/feeds/2242481090928719974/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1023182855146596496&amp;postID=2242481090928719974' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1023182855146596496/posts/default/2242481090928719974'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1023182855146596496/posts/default/2242481090928719974'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saifullah-salafy.blogspot.com/2008/10/informasi-dauroh-syariyyah-kota.html' title='Informasi Dauroh Syar&apos;iyyah Kota  Pontianak'/><author><name>saifullah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12056788146908897077</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_7oCYBN6dEQg/SOd86KCEepI/AAAAAAAAAAY/zID-ha1fTk4/S220/Lafadz16.BMP'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1023182855146596496.post-5829232532567329259</id><published>2008-10-05T06:38:00.000-07:00</published><updated>2008-10-05T06:54:48.403-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='mabhats'/><title type='text'>Hakikat Yang Terlupakan Dari Imam Asy-Syafi'i Dan Kesamaan Aqidah Imam Empat</title><content type='html'>HAKIKAT YANG TERLUPAKAN DARI IMAM ASY-SYAFI’I&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh&lt;br /&gt;Syaikh Dr Muhammad bin Musa Al-Nashr&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Asy-Syafi’i adalah seorang ulama besar dan salah satu dari empat imam besar, yang ilmunya telah tersebar di penjuru dunia, serta jutaan kaum muslimin di negara-negara Islam, seperti Iraq, Hijaz, Negeri Syam, Mesir, Yaman dan Indonesia bermadzhab dengan madzhabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor yang menyebabkan saya memilih pembahasan ini, karena mayoritas kaum muslimin di negeri ini atau di negara ini berada di atas madzhab Asy-Syafi’i dalam masalah furu’, dan hanya sedikit dari mereka yang berada di atas madzhab Asy-Syafi’i dalam masalah ushul. Ironisnya ini menjadi fenomena.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita mendapati sejumlah orang mengaku bermadzhab Imam Malik dalam masalah furu’, namun tidak memahami dari madzhab beliau kecuali tidak bersedekap dalam shalat. Mereka menyelisihi aqidah Imam Malik yang Sunni dan Salafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga kita mendapati selain mereka mengaku berada di atas madzhab Imam Asy-Syafi’i dalam masalah furu’, dan tidak memahami dari madzhabnya kecuali masalah menyentuh wanita membatalkan wudhu. Dan, seandainya isterinya menyentuh walaupun tidak sengaja, maka ia sangat marah sembari berteriak : “Sungguh kamu telah membatalkan wudhu’ ku, wahai perempuan !”. Apabila ditanya, tentang siapakah Imam Asy-Syafi’i tersebut, siapa namanya dan nama bapaknya, niscaya sebagian mereka tidak dapat memberikan jawaban kepadamu, dan ia tidak mengenal tokoh tersebut ; dalam masalah aqidah, ia menyelisihi aqidah Imam Asy-Syafi’i, dan dalam masalah furu’ ia tidak mengerti dari madzhab beliau kecuali sangat sedikit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga, jika engkau mendatangi banyak dari pengikut madzhab Hanabilah kecuali yang tinggal di menetyap di Jazirah Arab dan sekitarnya dari orang yang terpengaruh oleh dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, seorang mujaddid (pembaharu) abad ke -12 Hijriyah. Kita mendapati, kebanyakan dari pengikut madzhab Ahmad di negeri Syam dan yang lainnya, mereka tidak mengetahui Aqidah Ahmad bin Hambal, sehingga engkau mendapati mereka dalam aqidahnya berada di atas madzhab Asy’ariyah atau Mufawwidhah. Padahal Imam Ahmad bin Hambal adalah seorang Salafi dan imam Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Beliau menetapkan nama dan sifat bagi Allah tanpa takyif, tamtsil dn tasybih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga pengikut madzhab Hanafiyah yang tinggal di wilayah India, negara-negara a’jam, Turki, Asia Timur, dan negara-negara Kaukasus serta lainnya. Kita mendapati mereka berada di atas madzhab Imam Abu Hanifah dalam masalah furu’, namun mereka tidak berada di atas madzhab Imam Abu Hanifah dalam masalah ushul. Mereka tidak beragama dengan aqidah imam besar ini dalam permasalahan tauhid, nama dan sifat Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empat Imam besar ini (aimmat al-arba’ah) tidak berbeda dalam masalah aqidah, tauhid dan ushul kecuali sedikit yang Abu Hanifah tergelincir padanya. Yaitu dalam masalah iman, tetapi kemudian beliau rujuk dan kembali kepada ajaran yang difahami para imam lainnya, seperti Asy-Syafi’i, Malik dan Ahmad bin Hanbal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Diangkat dari ceramah Syaikh Muhammad bin Musa Al-Nashr, dalam pengantar pelajaran Aqidah Imam Syafi’i, yang disampaikan dalam “Daurah Syar’iyah Lil Masa’il Al-Aqdiyah wal Manhajiyah”, pada hari Kamis 7 Februari 2008M yang diadakan oleh Ma’had Aaliy Ali bin Abi Thalib bekerja sama dengan Markaz Al-Albani, Yordania]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun XII/1429H/2008M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Almat Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183. telp. 0271-5891016]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KESAMAAN AQIDAH IMAM EMPAT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh&lt;br /&gt;Syaikh Dr. Muhammad Abdurrahman Al-Khumais&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aqidah imam empat, Abu Hanifah, Malik, Syafi’i, dan Ahmad. Adalah yang dituturkan oleh Al-Qur’an dan Sunnah Nabi, sesuai dengan apa yang menjadi pegangan para sahabat dan tabi’in. Tidak ada perbedaan di antara mereka dalam masalah ushuluddin. Mereka justru sepakat untuk beriman kepada sifat-sifat Allah, bahwa Al-Qur’an itu dalam Kalam Allah, bukan makhluk dan bahwa iman itu memerlukan pembenaran dalam hati dan lisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka juga mengingkari para ahli kalam, seperti kelompok Jahmiyyah dan lain-lain yang terpengaruh dengan filsafat Yunani dan aliran-aliran kalam. Syaikhul Islam Imam Ibnu Taimiyyah menuturkan, “… Namun rahmat Allah kepada hamba-Nya menghendaki, bahwa para imam yang menjadi panutan umat, seperti imam madzhab empat dan lain-lain, mereka mengingkari para ahli kalam seperti kelompok Jahmiyyah dalam masalah Al-Qur’an, dan tentang beriman kepada sifat-sifat Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka sepakat seperti keyakinan para ulama Salaf, di mana antara lain, bahwa Allah itu dapat dilihat di akhirat, Al-Qur’an adalah kalam Allah bukan makhluk, dan bahwa iman itu memerlukan pembenaran dalam hati dan lisan.[1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ibnu Taimiyyah juga menyatakan, para imam yang masyhur itu juga menetapkan tentang adanya sifat-sifat Allah. Mereka mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah kalam Allah bukan makhluk. Dan bahwa Allah itu dapat dilihat di akhirat. Inilah madzhab para Sahabat dan Tabi’in, baik yang termasuk Ahlul Bait dan yang lain. Dan ini juga madzhab para imam yang banyak penganutnya, seperti Imam Malik bin Anas, Imam Ats-Tsauri, Imam Al-Laits bin Sa’ad, Imam Al-Auza’i, Imam Abu Hanifah, Imam Syafi’i, dan Ahmad.[2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ibnu Taimiyyah pernah ditanya tentang aqidah Imam Syafi’i. Jawab beliau, “Aqidah Imam Syafi’i dan aqidah para ulama Salaf seperti Imam Malik, Imam Ats-Tsauri, Imam Al-Auza’i, Imam Ibnu Al-Mubarak, Imam Ahmad bin Hambal, dan Imam Ishaq bin Rahawaih adalah seperti aqidah para imam panutan umat yang lain, seperti Imam Al-Fudhal bin ‘Iyadh, Imam Abu Sulaiman Ad-Darani, Sahl bin Abdullah At-Tusturi, dan lain-lain. Mereka tidak berbeda pendapat dalam Ushuluddin (masalah aqidah). Begitu pula Imam Abu Hanifah, aqidah tetap beliau dalam masalah tauhid, qadar dan sebagainya adalah sama dengan aqidah para imam tersebut di atas. Dan aqidah para imam itu adalah sama dengan aqidah para sahabat dan tabi’in, yaitu sesuai dengan apa yang dituturkan oleh Al-Qur’an dan As-Sunnah. [3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aqidah inilah yang dipilih oleh Al-Allamah Shidiq Hasan Khan, dimana beliau berkata : “ Madzhab kami adalaha mazhab ulama Salaf, yaitu menetapkan adanya sifat-sifat Allah tanpa menyerupakan-Nya dengan sifat makhluk dan menjadikan Allah dari sifat-sifat kekurangan, tanpa ta’thil (meniadakannya makna dari ayat-ayat yang berkaitan dengan sifat-sifat Allah). Mazdhab tersebut adalah madzhab imam-imam dalam Islam, seperti Imam Malik bin Anas, Imam Syafi’i, Imam Ats-Tsauri, Imam Ibnu Al Mubarak, Imam Ahmad dan, lain-lain. Mereka tidak berbeda pendapat mengenai ushuludin. Begitu pula Imam Abu Hanifah, beliau sama aqidahnya dengan para imam diatas, yaitu aqidah yang sesuai dengan apa yang dituturkan oleh Al-Qur’an dan As-Sunnah.”[4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Disalin dari kitab I'tiqad Al-A'immah Al-Arba'ah edisi Indonesia Aqidah Imam Empat (Abu Hanifah, Malik, Syafi'i, Ahmad) oleh Dr. Muhammad Abdurarahman Al-Khumais, Penerbit Kantor Atase Agama Kedutaan Besar Saudi Arabia Di Jakarta]&lt;br /&gt;__________&lt;br /&gt;Footnotes&lt;br /&gt;[1]. Kitab Al-Iman, hal. 350-351, Dar ath-Thiba’ah al-Muhammadiyyah, Ta’liq Muhammad&lt;br /&gt;[2]. Manhaj As-Sunah, II/106&lt;br /&gt;[3]. Majmu’al-Fatawa, V/256&lt;br /&gt;[4]. Qathf Ats-tsamar, hal. 47-48&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1023182855146596496-5829232532567329259?l=saifullah-salafy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saifullah-salafy.blogspot.com/feeds/5829232532567329259/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1023182855146596496&amp;postID=5829232532567329259' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1023182855146596496/posts/default/5829232532567329259'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1023182855146596496/posts/default/5829232532567329259'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saifullah-salafy.blogspot.com/2008/10/hakikat-yang-terlupakan-dari-imam-asy.html' title='Hakikat Yang Terlupakan Dari Imam Asy-Syafi&apos;i Dan Kesamaan Aqidah Imam Empat'/><author><name>saifullah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12056788146908897077</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_7oCYBN6dEQg/SOd86KCEepI/AAAAAAAAAAY/zID-ha1fTk4/S220/Lafadz16.BMP'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1023182855146596496.post-83691735248473202</id><published>2008-10-04T01:31:00.000-07:00</published><updated>2008-10-04T01:39:35.271-07:00</updated><title type='text'>Idul Fitri = Kembali Suci</title><content type='html'>Oleh&lt;br /&gt;Al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada setiap kali menjelang Idul Fithri seperti sekarang ini (Ramadhan 1412H) atau tepat pada hari rayanya, seringkali kita mendengar dari para Khatib (penceramah/muballigh) di mimbar menerangkan, bahwa Idul Fithri itu maknanya -menurut persangkaan mereka- ialah "Kembali kepada Fitrah", Yakni : Kita kembali kepada fitrah kita semula (suci) disebabkan telah terhapusnya dosa-dosa kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjelasan mereka di atas, adalah batil baik ditinjau dari jurusan lughoh/bahasa ataupun Syara'/Agama. Kesalahan mana dapat kami maklumi -meskipun umat tertipu- karena memang para khatib tersebut (tidak semuanya) tidak punya bagian sama sekali dalam bahasan-bahasan ilmiyah. Oleh karena itu wajiblah bagi kami untuk menjelaskan yang haq dan yang haq itulah yang wajib dituruti Insya Allahu Ta'ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berkata :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama :&lt;br /&gt;"Adapun kesalahan mereka menurut lughoh/bahasa, ialah bahwa lafadz Fithru/ Ifthaar" artinya menurut bahasa : Berbuka (yakni berbuka puasa jika terkait dengan puasa). Jadi Idul Fithri artinya "Hari Raya berbuka Puasa". Yakni kita kembali berbuka (tidak puasa lagi) setelah selama sebulan kita berpuasa. Sedangkan "Fitrah" tulisannya sebagai berikut [Fa-Tha-Ra-] dan [Ta marbuthoh] bukan [Fa-Tha-Ra]".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua :&lt;br /&gt;"Adapun kesalahan mereka menurut Syara' telah datang hadits yang menerangkan bahwa "Idul Fithri" itu ialah "Hari Raya Kita Kembali Berbuka Puasa".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya :Dari Abi Hurairah (ia berkata) : Bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda. "Shaum/puasa itu ialah pada hari kamu berpuasa, dan (Idul) Fithri itu ialah pada hari kamu berbuka. Dan (Idul) Adlha (yakni hari raya menyembelih hewan-hewan kurban) itu ialah pada hari kamu menyembelih hewan".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Hadits Shahih. Dikeluarkan oleh Imam-imam : Tirmidzi No. 693, Abu Dawud No. 2324, Ibnu Majah No. 1660, Ad-Daruquthni 2/163-164 dan Baihaqy 4/252 dengan beberapa jalan dari Abi Hurarirah sebagaimana telah saya terangkan semua sanadnya di kitab saya "Riyadlul Jannah" No. 721. Dan lafadz ini dari riwayat Imam Tirmidzi]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dalam salah satu lafadz Imam Daruquthni :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Puasa kamu ialah pada hari kamu (semuanya) berpuasa, dan (Idul) Fithri kamu ialah pada hari kamu (semuanya) berbuka".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dalam lafadz Imam Ibnu Majah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : (Idul) Fithri itu ialah pada hari kamu berbuka, dan (Idul) Adlha pada hari kamu menyembelih hewan".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dalam lafadz Imam Abu Dawud:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Dan (Idul) Fithri kamu itu ialah pada hari kamu (semuanya) berbuka, sedangkan (Idul) Adlha ialah pada hari kamu (semuanya) menyembelih hewan".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits di atas dengan beberapa lafadznya tegas-tegas menyatakan bahwa Idul Fithri ialah hari raya kita kembali berbuka puasa (tidak berpuasa lagi setelah selama sebulan berpuasa). Oleh karena itu disunatkan makan terlebih dahulu pada pagi harinya, sebelum kita pergi ke tanah lapang untuk mendirikan shalat I'ed. Supaya umat mengetahui bahwa Ramadhan telah selesai dan hari ini adalah hari kita berbuka bersama-sama. Itulah arti Idul Fithri artinya ! Demikian pemahaman dan keterangan ahli-ahli ilmu dan tidak ada khilaf diantara mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan artinya bukan "kembali kepada fithrah", karena kalau demikian niscaya terjemahan hadits menjadi : "Al-Fithru/suci itu ialah pada hari kamu bersuci". Tidak ada yang menterjemahkan dan memahami demikian kecuali orang-orang yang benar-benar jahil tentang dalil-dalil Sunnah dan lughoh/bahasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun makna sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, bahwa puasa itu ialah pada hari kamu semuanya berpuasa, demikian juga Idul Fithri dan Adlha, maksudnya : Waktu puasa kamu, Idul Fithri dan Idul Adha bersama-sama kaum muslimin (berjama'ah), tidak sendiri-sendiri atau berkelompok-kelompok sehingga berpecah belah sesama kaum muslimin seperti kejadian pada tahun ini (1412H/1992M).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Tirmidzi mengatakan -dalam menafsirkan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam di atas- sebagian ahli ilmu telah menafsirkan hadits ini yang maknanya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Bahwa shaum/puasa dan (Idul) Fithri itu bersama jama'ah dan bersama-sama orang banyak".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga kaum muslimin kembali bersatu menjadi satu shaf yang kuat berjalan di atas manhaj dan aqidah Salafush Shalih. Amin![1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Disalin dari kitab Al-Masaa-il (Masalah-Masalah Agama)- Jilid ke satu, Penulis Al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat, Terbitan Darul Qolam - Jakarta, Cetakan ke III Th 1423/2002M]&lt;br /&gt;_________&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1023182855146596496-83691735248473202?l=saifullah-salafy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saifullah-salafy.blogspot.com/feeds/83691735248473202/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1023182855146596496&amp;postID=83691735248473202' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1023182855146596496/posts/default/83691735248473202'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1023182855146596496/posts/default/83691735248473202'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saifullah-salafy.blogspot.com/2008/10/idul-fitri-kembali-suci.html' title='Idul Fitri = Kembali Suci'/><author><name>saifullah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12056788146908897077</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_7oCYBN6dEQg/SOd86KCEepI/AAAAAAAAAAY/zID-ha1fTk4/S220/Lafadz16.BMP'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1023182855146596496.post-8019927655138155265</id><published>2008-10-04T00:32:00.000-07:00</published><updated>2008-10-04T02:30:22.578-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manhaj'/><title type='text'>Antara dakwah Salafiyah dan Hizbiyah</title><content type='html'>GARIS PEMISAH ANTARA DAKWAH SALAFIYAH DAN DAKWAH HIZBIYYAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh&lt;br /&gt;Ustadz Arif Fathul Ulum bin Ahmad Saifulloh &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ummat Islam sekarang ini sedang menghadapi bahaya yang besar dari musuh-musuhnya. Ada musuh-musuh yang menampakkan permusuhan mereka kepada Islam secara terang-terangan, seperti orang-orang kafir Yahudi, Nashoro, Hindu, Budha, Komunis, dan yang lainnya. Atau musuh-musuh Islam yang tidak begitu nampak permusuhannya kepada Islam dari munafikin dan ahli bid'ah wal ahwa'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun orang-orang kafir dari luar Islam, mereka menyerang Islam dari luar. Sedangkan orang-orang munafik dan ahli bid'ah, mereka menikam kaum muslimin dari arah belakang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang makar orang-orang kafir, Alloh menyebutkan solusi dari makar mereka di dalam kitab-Nya. Alloh Subhanahu wa ta'ala berfirman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan. Sesungguhnya Alloh beserta orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang berbuat ihsan (kebaikan)." [An-Nahl : 127-128]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh sebab itu, jika umat Islam tidak ingin bersempit dada terhadap makar-makar orang kafir hendaknya mereka berpegang teguh dengan dua perkara di dalam ayat di atas, yaitu : taqwa dan ihsan. Apabila umat Islam melaksanakan taqwa dan ihsan, Alloh menjanjikan kelapangan dari makar-makar orang-orang kafir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi kenyataannya saat ini sebagian besar dari kaum muslimin melakukan hal-hal yang kontradiktif dengan taqwa dan ihsan. Banyak di antara mereka yang terjerumus ke dalam kesyirikan dan kemaksiatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musuh berikutnya yang lebih berbahaya bagi kaum muslimin adalah ahli bid'ah dan syubuhat, dari jalan merekalah umat ini tenggelam ke dalam kesyirikan dan kemaksiatan. Merekalah yang mendorong orang-orang jahil dari kalangan kaum muslimin ke dalam kesyirikan. Mereka membuat para pelaku kemaksiatan semakin jauh dari jalan yang lurus karena mereka ghuluw di dalam mengingkari kemaksiatan sehingga menghalalkan darah seorang muslim yang melakukan kemaksiatan. Di antara ahli bid'ah ini ada yang mendorong kaum muslimin untuk melakukan kemaksiatan, dihiasilah kemaksiatan dengan nama-nama yang indah dan agamis. Mereka namakan campur baur laki-laki dan perempuan sebagai "percampuran jiwa dan fana" di dalam dzat Alloh. Mereka namakan khomer dengan "minuman ruhani". Mereka namakan nyanyian dan musik dengan nama "nasyid dan nyanyian Islami". Mereka namakan partai-partai pemecah belah umat sebagai "jama'ah pemersatu kaum muslimin". Mereka namakan ketaatan kepada waliyyul amri dalam perkara ketaatan sebagai "ketaatan kepada thoghut"…. Dan masih banyak lagi bualan-bualan mereka yang tidak mungkin disebutkan semuanya. Dengan syubhat-syubhat mereka ini jadilah ketaatan menjadi kemaksiatan, dan kemaksiatan menjadi ketaatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak munculnya kelompok-kelompok bid'ah, para salafush-sholih dan pengikut mereka selalu menghadapi dan melawan semua bid'ah dan syubhat ini dengan terang-terangan. Mereka membendung arus bid'ah dan syubhat ini dengan hujjah dari Kitab dan Sunnah, demikian juga dengan pedang sebagaimana dilakukan oleh Ali bin Abu Tholib Radhiyallahu anhu terhadap Khowarij.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak henti-hentinya kelompok-kelompok bid'ah ini tegak hingga hari ini. Tidak ada firqoh yang muncul kemudian punah, bahkan semakin banyak firqoh yang muncul. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring dengan kemajuan teknologi media massa, semakin luas jangkauan syubhat yang dilontarkan oleh kelompok-kelompok bid'ah ini, dan membuat semakin bingung para pemuda muslim yang memiliki semangat Islam yang tinggi tetapi tidak tahu mana yang haq dari dakwah-dakwah yang tersebar di sekelilingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka sangat diperlukan garis pemisah yang memilah mana Ahlis Sunnah dan mana ahli bid'ah, mana dakwah salafiyyah dan mana dakwah hizbiyyah; terutama di zaman sekarang yang banyak ahli bid'ah mengaku Ahli Sunnah dan banyak para hizbiyyun yang mengaku salafiyyun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini kami paparkan secara ringkas beberapa garis pemisah yang memilah antara dakwah salafiyyah Ahli Sunnah dengan dakwah hizbiyyah ahli bid'ah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SIKAP TERHADAP TAUHID DAN KESYIRIKAN&lt;br /&gt;Garis pemisah pertama yang membedakan antara dakwah salafiyyah dan dakwah hizbiyyah adalah sikap terhadap tauhid dan kesyirikan. Dakwah salafiyyah memprioritaskan dakwahnya untuk mengajak umat kepada tauhid dan menjauhkan mereka dari kesyirikan, inilah intisari dakwah semua rosul dan para pengikut mereka hingga hari kiamat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun dakwah hizbiyyah, mereka tidak mementingkan dakwah tauhid, bahkan kadang mengesampingkan dakwah tauhid dengan alasan memecah belah umat! Ada yang mengajak kepada perbaikan akhlak dan moral serta gigih merazia tempat-tempat kemaksiatan dalam keadaan mereka tenggelam dalam kesyirikan. Ada yang begitu getol kepada dakwah politik dalam keadaan jahil kepada tauhid sehingga membenamkan umat dan diri-diri mereka ke dalam kesyirikan dalam Rububiyyah, Uluhiyyah, dan Asma' dan Shifat. Ada lagi yang mengajak umat kepada ibadah sholat dan dzikir, dan membiarkan umat berdo'a dan bernadzar kepada selain Alloh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SIKAP TERHADAP IMAMAH DAN BA’IAT&lt;br /&gt;Dakwah salafiyyah tidak hanya berhenti pada Tauhid Asma' wa Shifat dan Tauhid Ibadah saja. Perlu diketahui, ada sebagian orang orang yang begitu semangat dalam masalah Tauhid Asma' wa Shifat dan Tauhid Ibadah tetapi mereka sembrono dalam masalah bai'at kepada pemimpin yang muslim sehingga terjatuh ke dalam pemikiran Khowarij, kaena Khowarij (klasik) tidaklah thowaf dan menyembelih kepada selain Alloh dan tidak memiliki kesalahan di dalam masalah Asma' wa Shifat, tetapi bid'ah mereka yang menyebabkan Ali bin Abu Tholib Radhiyallahu anhu memerangi mereka adalah karena mereka memberontak dari mendengar dan taat kepada waliyyul amri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah garis pemisah antara dakwah Sunnah salafiyyah dengan dakwah bid'ah hizbiyyah, yaitu sikap terhadap imam -yakni pemimpin atau penguasa muslim-. Ahli Sunnah tidak mensyaratkan bahwa waliyyul amri yang ditaati ini harus ma'shum (bersih dari kesalahan) dengan mengacu para hadits Adi bin Hatim Radhiyallahu anhu bahwasanya dia berkata : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berkata : "Wahai Rasululloh, kami tidak bertanya kepadamu tentang ketaatan kepada pemimpin yang bertaqwa, tetapi pemimpin yang melakukan ini dan itu (yaitu kejelekan-kejelekan)?" maka Rasululloh Shallallahu alaihi wa sallam bersabda : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Bertaqwalah kalian kepada Alloh dan mendengarlah dan taatlah" [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Ashim dalam as-Sunnah hal. 494 dan dishohihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Dhilalul Jannah : 1069]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada yang mensyaratkan waliyyul amri harus ma'shum kecuali Rofidloh. Oleh karena itu, kelompok-kelompok Islam sekarang ini yang enggan memberikan bai'at kepada waliyyul amri dengan alasan bahwa dia seorang yang fasik atau dholim, maka mereka ini telah mengikuti pemikiran Rofidloh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantaran inilah para ulama salaf selalu menyebut aqidah dalam hal imamah ini dalam kitab-kitab Sunnah, mereka berkata : "Kami tidak memandang bolehnya memberontak kepada para pemimpin dan para waliyyul amri kami, meskipun mereka berbuat kecurangan, kami tidak mendo'akan kejelekan kepada mereka, kami tidak melepaskan diri dari ketaatan kepada mereka, kami memandang ketaatan kepada mereka adalah ketaatan kepada Alloh Azza wa Jalla sebagai suatu kewajiban selama mereka tidak memerintah kepada kemaksiatan, dan kami do'akan mereka dengan kebaikan dan keselamatan"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah ini sengaja dihilangkan dari pembicaraan kelompok-kelompok dakwah, bahkan orang yang berbicara masalah ini dan menjelaskan kepada umat dicela dan dituduh penjilat, penakut, dan Murji'ah!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, banyak para pemuda Islam masuk ke dalam tandhim-tandhim sirri, dan berangkat untuk berjihad –sesuai dengan anggapan mereka-, kembali dengan membawa lima atau enam bai'at kepada orang-orang yang menyebut diri mereka sebagai amir, atau kembali ke dalam lingkungannya tanpa memandang sahnya bai'at kepada waliyyul amri-nya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SIKAP TERHADAP JAMA’AH&lt;br /&gt;Garis pemisah berikutnya yang membedakan antara dakwah salafiyyah dan dakwah hizbiyyah adalah pemahaman tentang makna "jama'ah muslimah". Ada orang yang menghilanglan makna jama'ah, bahkan menghilangkan umat Islam secara keseluruhan, dengan menyebut bahwa umat Islam adalah "Umat Yang Hilang". Ada lagi yang mengatakan bahwa seluruh lambang dan seluruh undang-undang adalah kafir, ini artinya adalah pengkafiran terhadap umat Islam secara keseluruhan. Ada lagi yang lain mencela persatuan kaum muslimin, dan jama'ah kaum muslimin sehingga tidak memandang kecuali kelompoknya, tidak menganggap jama'ah kecuali tandhim-nya, tiap-tiap kelompok memahami jama'ah sesuai dengan hawa nafsunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SIKAP TERHADAP JIHAD&lt;br /&gt;Garis pemisah berikutnya yang membedakan antara dakwah salafiyyah dan dakwah hizbiyyah adalah pemahaman tentang makna jihad; kapan diwajibkan jihad? Di bawah panji apa? Dan di bawah komando siapa? Apa maksud dari jihad? Maka jauh berbeda antara jihad dengan ifsad (perusakan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk meninjau pembahasan jihad yang lebih mendetail, lihat pembahasan "jihad" dalam Majalah AL FURQON Tahun 4 Edisi 9 rubrik Tafsir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SIKAP TERHADAP JIWA YANG DILINDUNGI DENGAN SEBAB IMAN DAN JAMINAN KEAMANAN&lt;br /&gt;Garis pemisah lainnya yang membedakan antara dakwah salafiyyah dan dakwah hizbiyyah adalah sikap terhadap jiwa yang dilindungi dengan sebab iman dan al-aman. Yang dimaksud dengan iman yaitu dia telah beriman kepada Robbnya sesuai dengan sabda Rosululloh Shallallahu 'alaihi wa sallam :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Tidak halal darah seorang muslim yang bersyahadat An Laa Ilaha Illa-Alloh wa Anna Muhammadan Rosululloh kecuali dengan satu dari tiga hal: jiwa dengan jiwa, orang yang sudah menikah yang berzina, dan orang yang meninggalkan agamanya dan meninggalkan jama'ah." [Muttafaq 'alaih, Shohih Bukhori 6/2521 dan Shohih Muslim: 1676]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alloh Subhanahu wa ta'ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Dan barangsiapa yang membunuh seorang mu'min dengan sengaja maka balasannya ialah jahannam, kekal ia di dalamnya dan Alloh murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan adzab yang besar baginya. [An-Nisa' : 93)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun al-aman adalah jaminan keamanan kepada orang-orang kafir mu'ahad, dzimmi, dan yang lainnya. Al-aman memiliki hukum-hukum yang dijelaskan oleh Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, dalam hadits Ummu Hani' bahwasanya dia datang kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam saat fat-hu makkah, Ummu Hani' berkata : "Wahai Rosululloh, sesungguhnya anak ibuku menyangka bahwa dia akan membunuh orang yang aku lindungi -Fulan Ibnu Hubairoh-." Maka Rosululloh shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Kami melindungi orang yang kamu lindungi, wahai Ummu Hani'." [Muttafaq 'alaih, Shohih Bukhori: 357 dan 3171]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disebutkan dalam hadits Abdulloh bin Amr Radhiyallohu anhuma bahwasanya Rosullulloh Ahollallohu alaihi wa sallam bersabda : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya ; Orang yang membunuh mu'ahad (orang kafir yang membuat perjanjian dengan orang Islam) maka tidak akan bisa mencium bau surga, dan sesungguhnya bau surga didapati dari jarak 40 tahun perjalanan." [HR. Bukhori: 3166 dan 6914]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah ini telah dibahas secara panjang lebar oleh para ulama. Bahkan di antara para ulama ada yang mengkhususkan pembahasan ini dalam kitab tersendiri seperti al-Imam Ibnul Qoyyim dalam kitabnya, Ahkam Ahli Dzimmah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun kelompok-kelompok Khowarij zaman ini, mereka menghalalkan darah jiwa-jiwa yang dilindungi oleh Islam dengan sebab iman dan al-aman karena mereka mengkafirkan kaum muslimin yang memberi jaminan keamanan kepada orang-orang kafir; maka orang kafir dengan orang kafir tidak bisa memberi jaminan keamanan di antara mereka, inilah pandangan mereka sebenarnya. Apa yang kita saksikan dari takfir dan tafjir (pengeboman-pengeboman) tidak lain ialah sebagai buah dari pemikiran Khowarij ini dan hasil dari provokasi da'i-da'i fitnah dan kesesatan!&lt;br /&gt;SIKAP TERHADAP ULAMA DAN “SIAPAKAH ULAMA?”&lt;br /&gt;Garis pemisah berikutnya adalah sikap terhadap ulama, dan "Siapakah ulama?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian orang mengatakan : "Duduklah bersama para ulama, bermajelislah dengan para ulama!" Sedangkan yang lain mencela para ulama dengan mengatakan : "Mereka (ulama) tidak paham realita!" Ada lagi yang mengatakan : "Peristiwa-peristiwa yang telah terjadi menunjukkan bahwa umat ini tidak memiliki ulama rujukan yang layak!" Yang lain mengatakan : "Para ulama tidak berdiri sendiri dalam fatwa-fatwa mereka, bahkan mereka penjilat terhadap penguasa!" Setelah keluar celaan-celaan ini kemudian dari kelompok para pencela ini mengatakan : "Dengarkanlah perkataan para ulama!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapakah ulama yang harus didengar perkataannya? Apakah mereka orang-orang yang memakai baju-baju tertentu atau yang memiliki bentuk-bentuk tertentu? Tidak, para ulama adalah mereka yang mendalami Kitab dan Sunnah dengan pemahaman salafush-sholih, menyeru kepada tauhid dan melarang dari kesyirikan, mengajak kepada Sunnah dan menjauhkan dari bid'ah. Telah datang kesaksian dari para ulama bahwa mereka adalah ahli ilmu, mereka mengikuti dalil, bukan hawa nafsu, mengajak kepada persatuan di atas al-haq bukan perpecahan di atas kesesatan-kesesatan, berusaha untuk menjelaskan al-haq kepada umat bukan membodohkan umat dan menyesatkan mereka. Dan zaman sekarang ini adalah seperti yang dikatakan oleh Abdulloh bin Mas'ud Radhiyallohu anhu : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sesungguhnya kalian sekarang ini berada di zaman yang banyak ulamanya dan sedikit tukang khotbahnya, dan sesungguhnya akan datang sesudah kalian suatu zaman yang banyak tukang khotbahnya dan sedikit ulamanya." [Diriwayatkan oleh Abu Khaitsamah dalam Kitab al-Ilm hal. 109 dan dishohihkan oleh Syaikh al-Albani dalam takhrijnya]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang sangat disesalkan, banyak orang-orang awam dan anak-anak muda yang mengangkat derajat para tukang khotbah ini sehingga mereka sebut sebagai ulama. Ketika para tukang khotbah ini menampakkan bid'ah dan fitnah, lantas para ulama yang tulen memperingatkan umat dari kesesatan mereka, maka orang-orang menyangka bahwa khilaf (perselisihan) antara para ulama dan para tukang khotbah ini adalah khilaf yang terjadi antara ulama dengan ulama, kemudian dipraktekkanlah fiqih salaf –dengan serampangan- di dalam menyikapi khilaf yang terjadi di antara para ulama. Seandainya saja mereka benar dalam memahami fiqih khilaf, tetapi kenyataannya mereka membawakan perkataan Ibnu Mas'ud rodhiyallohu anhu : "Khilaf adalah jelek", kata mereka ucapan ini maksudnya : "Diamlah, jangan mengingkari kebid'ahan dan kesesatannya!" (?!!)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SIKAP TERHADAP BID’AHDAN AHLI BID’AH&lt;br /&gt;Garis pemisah berikutnya yang membedakan antara dakwah salafiyyah dan dakwah hizbiyyah adalah sikap terhadap bid'ah dan ahli bid'ah serta bagaimana sikap yang benar di dalam mu'amalah dengan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ulama Ahli Sunnah telah memaparkan dalam kitab-kitab mereka sikap-sikap tehadap bid'ah, mereka bantah para pemilik kebatilan, mereka jelaskan kebid'ahan-kebid'ahan mereka di dalam masalah aqidah, manhaj, ibadah, akhlak, dan mu'amalah. Demikian juga mereka telah menjelaskan sikap-sikap terhadap ahli bid'ah dan mu'amalah dengan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak pernah muncul suatu bid'ah dalam umat melainkan diingkari oleh salaf dari kalangan sahabat, tabi'in, dan para imam agama ini yang mengikuti mereka dalam kebaikan. Mereka selalu memperingatkan umat dari bid'ah-bid'ah ini dan mengingkari ahli bid'ah atas kebid'ahan mereka. Mereka menampakkan sikap berlepas diri dari ahli bid'ah dan menyatakan kebencian dan permusuhan terhadap ahli bid'ah sampai mereka bertaubat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Ibnu Umar Radhiyallahu anhuma bahwasanya dia berkata kepada seseorang yang menyampaikan berita kepadanya tentang kelompok Qodariyyah: "Jika engkau bertemu mereka beritahukan bahwa Ibnu Umar berlepas diri dari mereka dan mereka berlepas diri dari Ibnu Umar." [Diriwayatkan oleh Muslim dalam Shohih-nya 1/140]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abul Jauza' rahimahulloh dia berkata : "Kalau aku bertetangga dengan kera dan babi itu lebih aku sukai daripada bertetangga dengan seorang dari ahli bid'ah." [Dikeluarkan oleh Ibnu Baththoh dalam Ibanah Kubro 2/467 dan Lalika'i dalam Syarh Ushul I'tiqod 1/131]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan ulama salaf menolak pemberian dan hadiah dari ahli bid'ah lantaran hal itu akan memunculkan kecintaan kepada mereka, karena tabiat manusia adalah suka kepada siapa yang berbuat baik kepadanya. Tidak mungkin seseorang menerima pemberian dan hadiah ahli bid'ah kemudian mengaku membenci mereka, hal ini mustahil secara syar'i dan logika. [Lihat Mauqif Ahlis Sunnah min Ahlil Ahwa' wal Bida' 2/473]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Imam Abdulloh bin Mubarok rahimahulloh berkata : "Aku tidak pernah melihat harta yang lebih binasa daripada harta ahli bid'ah." Dia juga berkata : "Ya Alloh, janganlah Engkau jadikan bagi ahli bid'ah jasa terhadapku sehingga hatiku mencintainya." [Dikeluarkan oleh Lalika'I dalam Syarh Ushul I'tiqod Alhi Sunnah 2/158]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ada kelompok dakwah yang menyelisihi jalan salaf dalam menyikapi bid'ah dan ahlinya, maka mereka adalah penyebar dakwah bid'ah dan hizbiyyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MASALAH TAFKIR&lt;br /&gt;Garis pemisah berikutnya yang membedakan antara dakwah salafiyyah dan dakwah hizbiyyah adalah masalah takfir. Tidak diragukan lagi bahwa Ahli Sunnah mengkafirkan setiap orang yang dikafirkan oleh Alloh dan Rosul-Nya dan yang terjatuh ke dalam kekufuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Takfir mu'ayyan (personal) tidak diperbolehkan kecuali setelah terkumpul padanya syarat-syarat pengkafiran dan tidak ada mawani' (penghalang) dari pengkafiran. Di antara syarat-syarat takfir adalah ilmu dan ma'rifat, ikhtiyar (atas pilihan sendiri atau terpaksa), dan kesengajaan. Di antara mawani' adalah : takwil, kejahilan (kebodohan), lupa, tidak sengaja, dan ikroh (pemaksaan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh takwil adalah keadaan Hathib bin Abu Balta'ah. Contoh ikroh adalah keadaan Ammar bin Yasir. Contoh ketidaksengajaan adalah seorang yang mengatakan : "Ya Alloh, Engkau adalah hambaku dan aku adalah Robb-Mu…."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka "Ahlul Haq dan Sunnah" adalah orang-orang yang berhati-hati dalam masalah takfir tidak seperti ahli bid'ah yang sembarangan dalam masalah takfir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk pembahasan yang lebih rinci tentang masalah takfir ini, lihat "Fitnah Takfir" oleh Syaikh al-Albani rohimahullah yang dimuat dalam majalah AL FURQON Tahun 3 Edisi 10 rubrik Fatwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SIKAP TERHADAP AQIDAH WALA DAN BARO &lt;br /&gt;Garis pemisah berikutnya yang membedakan antara dakwah salafiyyah dan dakwah hizbiyyah adalah sikap terhadap aqidah wala' wal baro'. Yakni, wala' kepada orang-orang mu'min dan baro' terhadap orang-orang kafir. Wala' kepada Ahli Sunnah wal Jama'ah para pengikut salafush-sholih dan baro' terhadap ahli bid'ah wal furqoh (perpecahan) wa tahazzub (hizbiyyah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara pokok-pokok aqidah Islam yang agung adalah wajibnya memberikan wala' (loyalitas) kepada setiap muslim dan baro' (membenci dan memusuhi) orang-orang kafir. Wajib memberikan wala' kepada orang-orang yang bertauhid dan baro' terhadap orang-orang musyrik, inilah agama Ibrohim alaihis salam yang kita semua diperintahkan Alloh agar mengikutinya. Alloh Subhanahu wa Ta'ala berfirman :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrohim dan orang-orang yang bersama dengannya; Ketika mereka berkata kepada kaum mereka : "Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Alloh, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Alloh saja…." [Al-Mumtahanah : 4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alloh Subhanahu wa Ta'ala mengharamkan wala' kepada orang-orang kafir semuanya sebagaimana dalam firman-Nya : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia…. [Al-Mumtahanah : 1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wala' yang terlarang diberikan kepada seorang kafir adalah kecintaan kepada agamanya dan pembelaan mereka di dalam melakukan hal-hal yang merugikan kaum muslimin. Adapun mu'amalah dalam masalah jual beli dan yang semisalnya, maka ini bukanlah pijakan hukum wala' wal baro', karena Rosullulloh shollallohu alaihi wa sallam wafat dalam keadaan baju besinya digadaikan pada orang Yahudi (lihat Shohih Bukhori 3/1068); demikian juga, adil dan ihsan dalam bermu'amalah dengan ahli dzimmah dan mu'ahadin tidak melazimkan kecintaan kepada mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Abdulloh bin Abdurrohman al-Bassam rahimahulloh mengomentari hadits yang menyebutkan jual beli Rosullulloh shollallohu alaihi wa sallam dengan orang Yahudi dengan mengatakan : "Hadits ini menunjukkan bolehnya mu'amalah dan jual beli dengan orang-orang kafir, dan bahwasanya hal ini tidak termasuk muwalah (loyalitas) kepada mereka." [Taudlihul Ahkam 4/75]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka selayaknya kita berusaha mengetahui kaidah-kaidah syar'i dari wala' wal baro' lantaran perkara ini merupakan pemilah antara dakwah salafiyyah dengan dakwah-dakwah hizbiyyah. Dikarenakan banyak kelompok-kelompok dakwah yang masuk dalam masalah wala' dan baro' tanpa kaidah-kaidah yang shohihah. Akibatnya, mereka kafirkan orang-orang yang tiada dalil menunjukkan atas pengkafirannya, sedangkan mereka loyal kepada orang yang wajibnya mereka berlepas diri darinya dan baro' dari orang yang diberikan wala' kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat pembahasan lebih lanjut dalam masalah ini di dalam al-Wala' wal Baro' fil Islam, Syaikh al-Allamah Sholih al-Fauzan hafidhohullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Pembahasan ini disarikan dari kitab Kawashif Jaliyyah fil Furuq Baina Dakwah Salafiyyah wa Dakwah Hizbiyyah oleh Syaikh Muhammad bin Ramzan al-Hajiri]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENUTUP&lt;br /&gt;Inilah yang bisa kami paparkan dari beberapa garis pemisah yang memilah antara dakwah salafiyyah Ahli Sunnah dan dakwah hizbiyyah ahli bid'ah. Semoga bisa menjadi cahaya penerang bagi siapa saja yang tersesat dan salah jalan, dan menunjukkan kaum muslimin kepada jalan yang lurus. Amiin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Disalin dari Majalah Al-Furqon, Tahun 6 Edisi 4, Dzul Qo’dah 1427 (Desember 2006) Penerbit Lajnah Dakwah Ma’had Al-Furqon, Alamat Ma’had Al-Furqon, Srowo Sidayu Gresik Jatim PO BOX 21 (61153)]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1023182855146596496-8019927655138155265?l=saifullah-salafy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saifullah-salafy.blogspot.com/feeds/8019927655138155265/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1023182855146596496&amp;postID=8019927655138155265' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1023182855146596496/posts/default/8019927655138155265'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1023182855146596496/posts/default/8019927655138155265'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saifullah-salafy.blogspot.com/2008/10/antara-dakwah-salafiyah-dan-hizbiyah-1.html' title='Antara dakwah Salafiyah dan Hizbiyah'/><author><name>saifullah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12056788146908897077</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_7oCYBN6dEQg/SOd86KCEepI/AAAAAAAAAAY/zID-ha1fTk4/S220/Lafadz16.BMP'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1023182855146596496.post-8306361956978942711</id><published>2008-10-04T00:28:00.000-07:00</published><updated>2008-10-04T00:31:36.625-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_7oCYBN6dEQg/SOcbtP8hRrI/AAAAAAAAAAM/-ISC5YNJZgQ/s1600-h/Lafadz16.BMP"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_7oCYBN6dEQg/SOcbtP8hRrI/AAAAAAAAAAM/-ISC5YNJZgQ/s320/Lafadz16.BMP" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5253197954539407026" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1023182855146596496-8306361956978942711?l=saifullah-salafy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saifullah-salafy.blogspot.com/feeds/8306361956978942711/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1023182855146596496&amp;postID=8306361956978942711' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1023182855146596496/posts/default/8306361956978942711'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1023182855146596496/posts/default/8306361956978942711'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saifullah-salafy.blogspot.com/2008/10/blog-post.html' title=''/><author><name>saifullah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12056788146908897077</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_7oCYBN6dEQg/SOd86KCEepI/AAAAAAAAAAY/zID-ha1fTk4/S220/Lafadz16.BMP'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_7oCYBN6dEQg/SOcbtP8hRrI/AAAAAAAAAAM/-ISC5YNJZgQ/s72-c/Lafadz16.BMP' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
